Work With Heart

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang kawan lama. Singkat cerita kawan saya ini mengeluh dengan pekerjaannya saat ini. Yang dikeluhkan menurut saya adalah hal sepele, namun bagi beliau sangatlah berarti. Mau tahu keluhannya apa ? Jadi beliau ini bekerja sebagai ground staff pada sebuah maskpai penerbangan swasta. Setiap hari tugasnya menghadapi penumpang yang menggunakan maskapainya. “Capek gue kerja disana…” beliau mulai berujar. “Capek kenapa ?” tanya saya. “Iyalah….hampir setiap hari pesawat gue delay…yang ada penumpang pada marah ke gue…coba lo pikir deh…yang salah kan maskpainya ya?! Eh kok gue yang dimarahin. Kalo kerja dimarahin terus mending gue keluar (resign) aja ah..” Dalam hati saya hanya tersenyum karena ketidakpahaman kawan saya itu. Oh iya, untuk informasi saja, perusahaan maskapai tempat kawan saya bekerja ini adalah perusahaan ke empat dalam 1,5 tahun beliau berkarir. Jadi beliau sudah 4 kali keluar masuk perusahaan yang berbeda dalam 1,5 tahun. Entah apa sih yang dicari.

Fenomena diatas banyak terjadi dalam dunia pekerjaan. Dan banyak alasan yang dikemukakan kenapa mereka sangat getol keluar masuk perusahan. Sebenarnya bila mereka mengerti apa itu hakekat bekerja, mereka pasti enjoy bekerja di manapun juga. Saya bicara soal tempat bekerja yang ideal ya, dimana bentuk penghargaan kompetensi dinilai ideal dengan gaji yang mereka terima. Saya pernah melakukan research sederhana dengan bertanya satu pertanyaan kepada kawan, senior atau orang lain yang aktif bekejra di perusahaan. Pertanyaanya begini : apa sih hakekat bekerja itu ? Jawabannya macam-macam. Ada yang jawab bekerja itu untuk mencari nafkah. Ada yang jawab bekerja itu untuk mendapatkan uang. Tapi ada juga loh yang jawab, bekerja untuk mencarai jodoh.

Dari jawaban-jawaban diatas, tidak satu pun membuat saya puas. Hingga suatu hari saya mendapatkan satu jawab yang menurut saya sangat pas dan menenangkan. Bekerja itu adalah IBADAH. Bila kita telaah definisi ibadah, ibadah itu ada yang langsung dan tak langsung. Yang langsung itu seperti ibadah sholat pada orang muslim, pergi ke geraja pada orang Kristen. Kalau ibadah tidak langsung adalah kegiatan yang tidak langsung ditujukan untuk menyembah atau menganggungkan Tuhan, tapi berkegiatan untuk memberikan manfaat bagi orang yang memberi kerja dan manfaat bagi keluarga, sanak saudara. Atas manfaat yang ditimbulkannya itulah makanya disebut ibadah tidak langsung.

Sekarang kita korek lebih dalam lagi soal bekerja ini. Satu pertanyaan penting lagi dan mohon dijawab dengan seksama. Apa sih akfitas inti dalam bekerja ? Betul, jawabannya adalah SERVICE/MELAYANI. Kenapa ? karena tidak ada satu pun pekerjaan yang tidak melakukan SERVICE, tidak ada unsur melayaninya. Ada ? TIDAK ADA! Makanya, mau bekerja jadi kondektur kek atau jadi direktur kek, semua pasti ada unsur SERVICE nya. Anda tak akan bisa lari dari aktifitas SERVICE ini. Maka pegang 3 hal penting ini agar hidup Anda damai aman sentosa, apa 3 hal itu ? Camkan baik-baik :

  1. Service adalah sebuah KEPASTIAN
  2. Service adalah MEMBERI
  3. Service adalah Saling KETERGANTUNGAN

Saya coba jelaskan satu-satu ya :

  1. Service adalah sebuah kepastian, sudah saya jelaskan sedikit di atas. Intinya dunia ini tidak akan berjalan mulus bila tidak ada kegiatan SERVICE. Service itu melekat pada setiap pekerjaan, apapun pekerjaannya
  2. Service adalah MEMBERI. Pada hakekatnya SERVICE itu adalah memberi, sama seperti dalam kehidupan kita, bahwa hidup itu adalah MEMBERI, sejak kita dilahirkan hingga kita wafat. Contoh : saat kita lahir, kita memberi apa ? pastinya memberi kebahagian kepada kedua orang tua kita dan bila saat kita wafat sebagai seorang pimpinan dikantor misalnya, wafatnya kita memberi kesempatan bagi orang lain untuk menduduki posisi yang kita tinggalkan. Jadi SERVICE itu adalah KEHIDUPAN karena sama-sama mengandung arti MEMBERI.
  3. Service adalah KETERGANTUNGAN. Sadarkah kita bahwa sejak awal penciptaan manusia, saat kita masih menjadi zigot, kita menempel didinding rahim. Artinya kita tergantung dengan pihak lain. Oleh sebab itu, melihat hubungan antara kita dengan pelanggan, kedua belah pihak sangat bergantung. Tidak akan ada pelanggan bila tidak ada perusahaannya. Dan Perusahaan akan bubar bila tidak ada pelanggannya.

Lalu bagaimana proses diatas bisa kita jalankan dengan baik ? Kita perlu strategi yang namanya HEART, HEART adalah Helpful, Empathy, Attention, Responsive dan Trust. Bagaimana penjelasannya ? Sebagai berikut :

  1. Helpful : senantiasa membantu orang lain. Jadikan sebagai gaya hidup. Agar mudah menjadi orang yang helpful jadilah orang yang humble
  2. Empathy : berikan empathy kepada siapapun yang membutuhkan. Kerahkan effort agar empathy menjadi semakin tulus
  3. Attention : berikan perhatian dalam bentuk yang sederhana sekalipun. Contohnya senyum
  4. Responsive : jadilah orang yang responsive dengan mengusung “Can Do mindset”. Tumbuhkan pula respect yang tinggi agar kita semakin responsive
  5. Trust : dari kempat hal di atas, bila kita konsinten melakukan semuanya, maka kepercayaanlah yang akan kita peroleh dari pelanggan kita

Demikianlah penjelasan singkat mengenai Work With Heart. Semoga menginspirasi.

Erwin Snada | @erwinsnada | Senior Trainer 168 Solution | Associate Hijrah Coach

3 Hal yang Terjadi Akibat Menghiraukan Keluhan Pelanggan

Furious businessman

Dalam dunia bisnis yang namanya keluhan pelanggan kerap terjadi. Sebagus apapun produk yang Anda jual atau sebaik apapun layanan yang Anda berikan pasti akan dihampiri oleh keluhan dari pelanggan. Karena pelanggan adalah manusia biasa. Punya perasaan dan cita rasa yang sangat personal. Mungkin sebagian dari kita berfikir…jika pengalaman pelanggan adalah yang utama, maka marilah kita jaga agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dengan kita saat bertransaksi. Tapi itu juga belum menjamin menghilangkan yang namanya keluhan pelanggan.

Jadi keluhan pelanggan adalah sebuah kepastian dan hadapi saja dengan strategi yang sudah kita persiapkan dan bukan untuk dihindari. Namun banyak pula pemilik usaha atau institusi yang tidak atau kurang menghiraukan keluhan pelanggan tersebut. Lalu  apa kira-kira akibatnya bila keluhan pelanggan tidak tertangani dengan baik. Berikut ulasanya. 3 hal yang terjadi akibat menghiraukan keluhan pelanggan :

  1. Hilangnya kepercayaan pelanggan. Dalam bertransaksi biasanya pelanggan sudah memiliki persepsi atas produk atau layanan yang akan dibeli. Persepsi itu timbul dengan sendiri dipicu oleh kekuatan dari brand produk atau layanan itu. Semakin kuat brand tersebut semakin mempengaruhi persepsi pelanggan, semakin kuat harapan pelanggan. Maka kekuatan persepsi ini akan bersifat menyeluruh, bukan hanya pada produk tapi juga terhadap layanan purna jualnya. Disinilah titik kritikalnya, bila terjadi hal yang kurang menyenangkan atas produk atau layanan dan kita tidak mampu menangani keluhan mereka, maka persepsi yang sudah dibangun tadi akan runtuh seketika dibarengi dengan hilangya kepercayaan si pelanggan.
  2. Kampanye negatif. Di era media sosial sekarang ini, pelanggan semakin lantang bersuara. Apa yang mereka rasakan setelah bertransaksi, positif atau negative akan segera diketahui oleh teman atau orang-orang disekitarnya. Dan harap dicatat, biasaya ketika ada keluhan yang tidak tertangani dengan baik, berita negatif ini akan segera menyebar bak virus yang akan menyerang persepsi pelanggan lain. Dan ini akan sangat suit untuk dibendung. Dan begitulah pelanggan kita, tersiarnya berita buruk biasanya lebih cepat menyebar ketimbang berita baik.
  3. Kehilangan kesempatan mendapatkan pelanggan baru. Inilah yang palig berbahaya. Ketika persepsi negative sudah terbentuk, akan terasa sulit bagi pemilik usaha atau institusi dalam memperbaiki image produknya atau layannanya. Akan banyak biaya yang akan dikeluarkan untuk mengembalikan reputasi dari proruk atau layanan yang dijual karena image-nya sudah keburu terperosok karena buruknya dalam menangani keluhan pelanggan.

Oleh sebab itu milikilah manajemen keluhan pelanggan yang benar. Buatlah alur proses yang baik untuk menyelesaikan keluhan pelanggan. Miliki kemampuan yang responsive untuk segera menyelesaikan keluhan pelanggan. Dan yang terpenting adalah berikan empowerment yang proporsional agar staf dapat segera bertindak menangai keluhan pelanggan.

 

Erwin Yahya | @erwinsnada | Senior Trainer 168 Solution | Associate Hijrah Coach

Tantangan dan Rantangan

Kemarin netizen dikagetkan dengan berita viral yang menyoal Gubernur Jambi, Zumi Zola, yang menegur keras beberapa pegawai di sebuah rumah sakit.  Kemarahan tampak dari wajah dan sikapnya, pasalnya para pegawai rumah sakit itu tertidur saat bertugas.

Saya tidak akan menyorot perilaku sang gubernur. Yang akan saya bicarakan adalah sikap kerja pegawai rumah sakit tersebut. Seperti yang kita ketahui, dalam dunia kerja, ada pegawai yang berprestasi, ada yang biasa-biasa aja, dan ada juga pegawai yang minim prestasi, bahkan cendrung butuh perhatian khusus karena performa kerja yang belum memenuhi standart.

Bagi pekerja berpresetasi, berbagai cara dilakukan agar selalu dalam performa kerja terbaik. Namun bagi sebagian yang lain merasa cukup dengan apa yang dia lakukan sekarang. Kira-kira apa sih yang membedakan mereka ? Salah satu yang membedakan mereka adalah soal mindset dan motivasi.  Kedua hal inilah yang kemudian memicu orang untuk memandang pekerjaan sebagai sebuah tantangan atau rantangan. Kalau kita memandang pekerjaan sebagai tantangan, maka kita akan selalu siap menghadapi sesuatu yang baru, sesuatu yang ingin kita selesaikan. Kemudian, jika kita memandang pekerjaan sebagai rantangan, itu artinya apa ? Artinya kita bekerja hanya untuk makan. Singkatnya, kalo gak kerja gak dapet duit, gak dapet duit berarti gak bisa makan.

Pertanyaanya, sampai dimanakah pemahaman anda dalam memandang pekerjaan ? Sebagai tantangan atau hanya sebagai rantangan? Kalau hanya sebatas rantangan, maaf, kuda yg menarik pedati juga bekerja hanya untuk makan. Kerbau juga bekerja di sawah hanya untuk makan. Apakah anda seperti itu ? Tentunya tidak. Idealnya kita memandang pekerjaan sebagai tantangan. Bila itu yg kiat lihat, maka peluang untuk bisa mempersembahkan hasil pekerjaan terbaik bisa kita tuai. Prestasi pun bisa dengan mudah kita raih. Karena orang yang terbiasa menerima tantangan adalah orang selalu mempersiapkan dirinya menghadapi berbagai kemungkinan. Orang yang demikian adalah orang yang selalu mau belajar demi tantangan yang dihadapi. Orang seperti ini, tidak akan menyianyiakan waktu hanya untuk sekedar bermain game di hp atau bahkan tertidur saat bekerja. Dia akan memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan apa yang dia cita-citakan.

Lalu bagaimana agar kita selalu memiliki sikap menerima tantangan ? Menurut saya, ada beberapa cara untuk memiliki sikap tersebut, beberapa diantaranya adalah :

  • Tidak mudah merasa puas dengan hasil pekerjaan sendiri. Ini akan memicu kita untuk selalu merasa kurang denan hasil yang ada, dengan itu kita akan senantiasa tertantang untuk menghasilkan yang lebih baik lagi
  • Selalu melihat peluang untuk mengejar prestasi
  • Memandang positif setiap tantangan yang dihadapi

So, jadilah orang yang berani menerima tantangan dan persiapkanlah diri demi tantangan tersebut. Persiapkan diri dengan kompetensi yg lebih mumpuni, salah satunya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan.

Salam inspirasi

Erwin Snada | Senior Trainer 168 Soution | Service Coach | @erwinsnada | +62818750500

 

Are You Ready For The Future ?

 

futureAda sebuah perusahaan bernama Garmin. Mereka memproduksi GPS navigation system yang banyak dipasang di mobil mobil. Dan pada saat itu angka penjualan mereka naik pesat selama bertahun tahun. Tetapi ternyata tidak lama kemudian, bencana itu datang …Dan ternyata dunia dibanjiri smart phone. Tiba tiba orang tidak membeli lagi Garmin GPS system buat mobil lagi. Penjualan mereka pun turun drastis. Bencana …bencana … bencana …???

Bencana yang sama pernah dialami Kodak pada saat orang tidak mencetak photo lagi, Didalami Nokia pada saat orang tidak menggunakan telpon untuk komunikasi dengan voice (suara) lagi,

Dialami Blackberry pada saat orang tidak messaging menggunakan BBM lagi, Dialami perusahaan perusahaan minyak pada saat kita menginginkan alat transportasi yang ramah lingkungan, dialami kantor kantor cabang bank pada saat pelanggan tidak mau lagi ke cabang (dan lebih suka menggunakan ATM dan mobile banking), Dialami bus bus malam pada saat pelanggan lebih suka naik pesawat dengan selisih harga yang sedikit …

Contohnya sudah cukup banyak ?

Atau saya harus menyebutkan belasan contoh lagi ? Karena memang perubahan itu sedang terjadi di mana mana, di semua bidang, di semua industri, di semua negara.

The world has changed, The world is changing, And the world will continue to change …

Charles Darwin … dalam penelitian di pulau Galapagos menemukan sesuatu yang menarik. By the way, saya tidak percaya evolusi, tapi saya percaya pada kesimpulan Darwin yang ini.,”Bahwa makhluk yang paling sukses bukannya yang paling kuat, tetapi yang mampu bertahan dengan PERUBAHAN”. Kalau kita sesuaikan dengan context jaman sekarang ternyata bukan manusia yang paling kuat yang paling sukses, bukan manusia yang paling cakep yang paling sukses, dan bahkan bukan yang paling pintar yang sukses (makanya juara-juara 1 di sekolah kita dulu sering kali bukan menjadi yang paling sukses dalam kehidupan). Ternyata yang paling sukses adalah yang paling mampu bertahan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Nah pada saat Kodak dan Nokia mobile phone tidak mampu bertahan, ternyata ceritanya Garmin lain banget. Ternyata meskipun waktu itu mereka jaya dengan product product GPS, Garmin sudah menyiapkan product product dan inovasi di bidang lain… yaitu gadget gadget untuk alat kesehatan dan fitness. Jadi ternyata pada saat angka penjualan GPS system turun, mereka langsung ganti focus dan mengencangkan penjualan gadget untuk fitness and health.

Tidak lama kemudian angka penjualan pun meroket lagi.

Wow !!!

Why ???

Because they are ready for the future !!!

Karena mereka siap menghadapi masa depan.

Apakah Nokia mobile phone ready ??? No, they are not.

Apakah Blackberry ready ??? NO.

Apakah bus bus malam ready ??? No.

Apakah perusahaan perusahaan minyak ready ??? No. Padahal perusahaan perusahaan itu mungkin dulu lebih jaya dan lebih kaya daripada Garmin. Tetapi mereka tidak ready. Dan mereka tidak mampu beradaptasi dengan perubahan !!!

By the way, ini bukan hanya berlaku pada perusahaan, ternyata ini juga berlaku pada diri kita dan karier kita. Dan juga untuk karier anak anak kita kelak nanti. Sebaik apapun profesi yang kita tekuni, bidang yang kita jalani, dan industry di mana kita bekerja tetap saja ada resiko yang mengancam karier kita. Tidak ada yang pasti dalam karier kita.

So please, jangan pernah complain kepada perusahaan atau kepada atasan kita dengan mengatakan,”Saya merasa tidak ada kepastian dengan karier saya di perusahaan ini”

Well, let me tell you, tidak akan pernah ada kepastian! Kalau anda bagus anda akan maju, kalau tidak ya anda tidak akan pernah dipromosi. It is easy right ?.Jangan mengharapkan kepastian.

Belasan tahun lalu banyak teman saya mendaftar ke Teknik Sipil dan berharap bahwa mereka akan menjadi Insinyur Pembangunan, pada saat lulus ternyata ada krisis moneter dan pembangunannya di rem. Kebingungan mereka. Beberapa tahun lalu anak anaknya teman teman saya pada mendaftar jurusan perminyakan, karena bapaknya pada kaya kerja di perusahaan minyak.  Sekarang mereka lulus, dan ternyata tidak ada perusahaan minyak yang merekrut. Boro-boro merekrut, karyawan yang ada saja di PHK. Sekarang lulusan perminyakan banyak yang mendaftar jadi agen penjualan asuransi (which is great, berarti mereka punya plan B).

Kalau anda sekarang jadi teller, siap siap bahwa jumlah teller yang dibutuhkan akan turun (karena  banyak yang lebih suka ke ATM atau via Mobile Banking). Kalau anda kuliah kedokteran siap siaplah bahwa mungkin pendapatan dokter di masa depan akan tidak sebanyak masa lalu.

Always always … siap siap dan mempelajari trend dan bersiap untuk masa depan dengan mempelajari hal baru dan menambah differentiator anda. Jadi apa dong yang anda bisa lakukan untuk mempersiapkan masa depan anda ?

What can you do to prepare for the future …

  1. CONTINUE TO PERFORM AT WHAT YOU DO !!!

Tetap fokus pada apa yang anda lakukan and always perform and contribute at the maxinum level.

  1. READ, WATCH, OBSERVE, LEARN

Selalu mengamati apa yang terjadi di dunia luar sana. Lihat TV, dengerin Radio, browse Internet, baca buku, koran dan majalah.

  1. UNDERSTAND THE CHANGE THAT IS HAPPENING !!!

Perhatikan pattern perubahan yang sedang terjadi. Apa yang sedang berubah pada… pola pikir manusia, perilaku konsumen, bisnis, regulasi, politik, trend demographic, trend urbanisasi, trend digital

  1. LEARN SOMETHING NEW, INCREASE YOUR DIFFERENTIATORS !!!

Anda sudah punya beberapa differentator yang mengantarkan anda ke karier anda sekarang. Pelajari competency baru, skills baru, dapatkan knowledge baru, sertifikasi profesi yang baru, pelajari bahasa asing lain. Semuanya akan menambah diffetentiator anda untuk menambah kesiapan anda di masa depan.

  1. BE HUMBLE, KEEP AN OPEN MIND AND ALWAYS WANT TO LEARN !!!

Terakhir … kita harus mengerti …we dont know what we dont know. Lets be humble and open mind.  Mari kita belaiar, dari siapa saja…dari boss kita, dari customer kita, dari peer kita, dari supplier kita, dari anak buah kita, dari pegawai yang baru join di perusahaan kita. Kadang kadang anak baru yang masih muda ternyata membawa perspektif baru dan membuat kita belajar dari sudut yang lain. Let’s be humble and keep an open mind.

Selamat mencoba dan semoga kita lebih siap.

Penulis : Bpk. Pambudi Sunarsihanto

 

Inspirasi Customer Experience Oriented dari Supir Angkot

Angkot Semarang Awal Oktober 2015, kami berkesempatan mengunjungi kota Semarang untuk memberikan pelatihan. Jumat itu terlihat jalan sangat ramai dengan kendaraan. Siang yang begitu terik kami abaikan demi mencari kuliner enak di sekitar Semarang. Singkat cerita setelah berwisata kuliner, beranjaklah kami menuju hotel. Kami menghentikan angkot yang katanya lewat hotel tempat kami menginap. Dijalan kami bertanya ke supir, “Pak, lewat Hotel Paragon kan ya?”. Si supir menjawab, “Sebetulnya sih gak mas, angkot ini belok kiri…tapi ndak apa-apa lah … nanti biar saya lewatin depan hotel”.

Seneng rasanya kami mendengar jawaban si supir angkot. Meski hanya supir angkot, tampaknya beliau sangat faham dengan customer experience – memberikan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dan tidak terlupakan oleh konsumen.

Nah, pastinya kita jangan mau kalah dong ya sama supir angkot :). Lalu bagaimana caranya menciptakan pengalaman pelanggan yang menyenangkan ? Mudah saja, masih inget teori RATER ? RATER kepanjangan dari Reliability  Assurance, Tangible, Empathy dan Responsiveness. Untuk menciptakan pengalaman pelangan yang menyenangkan, Anda bisa mulai dari salah satu dari kelima unsur quality service yang ada. Misalnya anda mau memiliih empathy, maka fokuskanlah energi layanan yang anda berikan dengan pendekatan empathy. Bagaimana caranya ? Ya.. mungkin anda bisa mulai dengan merumuskan kembali SOP yang selama ini berlaku dalam melayani pelanggan. Kalau anda merasa SOP tersebut terlalu panjang dan sulit bahkan cukup mengekang ruang gerak pelanggan, maka cepatlah merevisi agar proses empathy dapat ditunjang.

Menciptakan pengalaman pelangan yang menyenangkan sebenarnya mudah. Anda hanya diminta untuk cukup sensitif dengan perilaku pelanggan yang anda layani. Ok, sampai juga dengan topik yang lain ya.

@erwinsnada | service coach | digital management enthusiast | 0818750500

Tidak Semuanya Untukmu

Tidak Semuanya Untukmu

giving-handstuisan dari seorang sahabat ….

Hari ini ada kejadian luar biasa. Saya bisa duduk di kereta yang saya naiki dari Bogor. Yang luar biasa bukan saya. Yang luar biasa adalah keretanya. Di luar kebiasaan agak telat datang dari dipo. Di luar kebiasaan pintunya berhenti tepat di depan saya berdiri smile emoticon. Tapi entah mengapa, karena luar biasa, jadi ada rasa aneh yang tidak biasa. Kenapa saya bisa duduk? Biasanya tidak. Pasti ada skenario Allah yang indah. Pertanyaan tersebut terus hadir diiringi keyakinan akan ada sesuatu namun tak tahu itu apa. Lalu jawabannya hadir pada satu stasiun setelah Bogor.  Jawabannya ada pada seorang ibu dan anak yang naik di stasiun Cilebut dan tidak mengarah ke bangku prioritas. Dia mengarah ke diriku dengan pandangan yang seakan berkata “ini jawaban atas pertanyaanmu”. Ya, Allah lah yang membuat aku duduk untuk kemudian membagi rezeki tersebut kepada ibu dan anaknya.

Tak semua untukmu..

Apa yang ada pada dirimu, apa yang kau rasakan, apa yang kau miliki memang sepenuhnya bukan milikmu..

Ketika kau memiliki pekerjaan yang lebih baik dibandingkan rekanmu yang lain, artinya ada tuntutan prestasi yang harus kau berikan dibanding rekanmu yang lain.

Ketika jabatanmu lebih baik dibandingkan yang lain, artinya ada kontribusi yang harus kau lakukan dibanding rekanmu yang lain.

Ketika begitu banyak harta dan kesenangan yang Allah titipkan kepadamu, artinya ada bagian yang banyak juga untuk para anak yatim dan fakir miskin.

Ketika gelar akademikmu lebih banyak dibandingkan yang lain, artinya ada ilmu yang harus kau bagi kepada yang lain agar ilmu tetap hidup dan bermanfaat.

Dan ketika buah hatimu lebih banyak dibanding yang lain, artinya lebih banyak waktu yang harus kau beri untuk menyayangi dan mendidik mereka
Tak semuanya untukmu..

Bahkan KETIADAAN yang ada padamu pun tak semuanya untukmu..

Ketika jabatanmu belum setinggi yang lain, artinya ada rizki orang lain yang lebih sesuai dan dibutuhkan melalui jabatan tersebut.

Ketika kau menaiki kendaraan umum karena Allah belum titipkan kendaraan pribadi untukmu, artinya ada rizkimu yang menjadi bagian rizki supir angkot, tukang ojek atau tukang becak.

Ketika rizkimu tak begitu cukup untuk makan di restoran mewah, artinya ada rizkimu yang menjadi bagian para pemilik warteg dan pedagang kaki lima yang sangat berharap dengan kedatanganmu di warungnya.

Ketka kau tak bisa belanja bulanan di supermarket yang lengkap karena rizkimu tidak bulanan, artinya ada pedagang kelontong sekitarmu yang mengharapkan sebagian dari rizki harian yang kau dapatkan.

Ketika buah hati tiada hadir bertahun-tahun, artinya ada rizki, perhatian dan kasih sayang yang menjadi bagian saudara2mu atau mungkin anak2 jalanan yang sedang kau bina.

Tak semuanya untukmu..

Karena pada hakikatnya semua itu adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Dari mana kau dapatkan dan untuk apa kau habiskan..

————-

Kembali ke duduk di kereta..

Pertanyaan menggelitik timbul ketika melihat penumpang lain yang bernasib sama di Bogor dan hingga Manggarai masih tertidur lelap. Bukankah “itu” semua untuknya? Kenapa kau tak bersikap yang sama? Wallahu a’lam…Bisa jadi Allah berikan kantuk untuknya agar dirinya pulih atas tenaga yang dia berikan kemarin dalam mencari nafkah halal bagi keluarganya. Atau bisa jadi dia tak peduli dengan kondisi sekitar sehingga Allah akan ambil rizki yang dia miliki untuk orang lain dengan cara yang lain. Wallahu a’lam….Kita hanya perlu meyakini bahwa apa yang ada pada dirimu memang tak semuanya untukmu..

Al Faqir

@erwinsnada | service coach |digital management enthusiast | 0818750500

Bisnis Yang Paling Bagus

Talking Bisnis-picsaySaya punya teman yg sejak 7 tahun lalu menyatakan ingin berbisnis. Waktu itu kami masih bekerja di perusahaan telekomunikasi. Minggu lalu saya berkesempatan ditraktir oleh teman saya itu untuk ngobrol2 dengannya. Hal pertama yg saya tanyakan tentunya adalah bisnis apa yg sudah dijalankan. Ternyata beliau belum juga menjalankan bisnisnya. Alasannya karena banyaknya pertimbangan. ” Bisnis kan butuh perencanaan yang matang bos”…ungkapnya. Saya hanya diam sambil mendengarkan 1001 macam alasan sehingga dia akhirnya tidak juga menjalankan bisnisnya.

Saya pernah dengar ungkapan seorang motivator bisnis yang mengatakan bahwa, memulai sebuah bisnis itu sama seperti kita mau mandi. Jadi jangan dipikirin yang ribeu-ribeut. Coba kalau Anda mau mandi, apa yang dilakukan ? Langkah pertama adalah mengambil handuk. Lalu melangkah ke kamar mandi. Terus buka pakaian … dan mandi. Selesai! Dah gitu aja.

Tapi kan buat orang yang baru terjun ke dunia wirausaha gak semudah itu dong … Well, the answer could be right or wrong. Tergantung mindset Anda memandang sebuah bisnis. Berbisnis kan cuma dua hasilnya. Bisa untung atau bisa rugi. Kans keduanya berimbang, fifty-fifty. Sayangnya kebanyakan dari kita memikirkan bagaimana biar gak rugi, bukan bagaimana biar mendapat untung. Kedua pemikiran ini berbeda. Yang pertama berorientasi pada problem. Yang kedua berorientasi pada solusi. Kalau selalu berorientasi pada problem, yang pikiran yg timbul adalah bagaimana mengantisipasi agar bisnis tidak rugi, berfikir soal perencanaan bisnis yg terlalu matang, dan lain sebagaimana. Yang ada akhirnya penundaan yang berkepanjangan. Gak selesai-selesai deh. Percaya sama saya :). Coba kalo dibalik, yang dipikirkan adalah keuntungannya…anda semakin asyik dan semakin terpacu untuk mensegerakan membuka bisnis anda. Itu yang saya alami saat ingin membuka sebuah bisnis. Kalau memikirkan kerugian dan keuntungan sama-sama memerlukan energi…ya better mikirin keuntungan aja..iya kan ?!

semoga terinspirasi.

@erwinsnada | 0818750500 | service coach | digital management enthusiast

Win Customer’s Heart ala XL-Axiata

Gambar XL aJudul diatas sepertinya cukup challenging bila ingin diterapkan dalam hal melayani pelanggan. Apalagi bila berkaitan dengan uang dan dalam situasi perekonomian yang sedang sulit seperti ini. Seperti yang saya alami pada minggu ini. Saat saya komplain kepada petugas layanan XL soal pulsa saya yg hilang…saya pikir complain saya tidak akan ditanggapi dengan penggatian pulsa. Tapi….ternyata dugaan saya SALAH BESAR. XL mau loh ganti pulsa saya yg hilang, kok bisa ? Begini ceritanya.

Dua hari lalu, saya mengisi pulsa Rp. 50.000. Setelah isi pulsa, saya langsung aktifkan paket internet di Galaxy Note saya. Harusnya, setelah diaktifkan, ada notifikasi yang menyatakan saya setuju memilih paket internet yang saya pilih. Entah kenapa, notifikasi tersebut tak kunjung tiba. Dan karena aktifitas saya saat itu, maka tanpa saya sadari, paket internet yang saya pilih tidak aktif. Hasilnya, pemakain pulsa standart berlaku selama saya melakukan aktifitas internetan. Dan benar saja, dalam dua hari pulsa saya habis ..bis…terpakai untuk internetan dengan pulsa standart. Kaget dong jadinya, mosok baru dua hari isi pulsa sudah habis.

Malamnya saya telpon ke 817…sibuk. Akhirnya saya sapa XL123 melalui akun twitter. Gayung bersambut dan terjadilah negosiasi. Intinya saya gak mau pulsa saya hilang begtu saja, karena itu bukan salah saya. Iya dong, kenapa gak ada notifikasi seperti biasanya? emangnya kerjaan saya  cuma nungguin notifikasi doang ? Kalau gak ada notifikasi bukankah itu kesalahan berasal dari XL ?

Memahami kejadian tersebut, pihak XL mau bertanggung jawab. Ini yang saya salut. Sebetulnya sih bukan masalah uangnya…tapi menempatkan proses tanggung jawab dalam aktifitas pengaktifkan paket internetnya. Kesalahan proses jelas di XL bukan di saya.

Anyway, dengan kejadian tersebut saya berharap XL bisa memonitor segala proses yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggannya dengan lebih baik lagi. Tapi yang terpenting, bertanggung jawab untuk selalu memenangkan hati pelanggan…jauh lebih mulia dan membuat XL semakin hebat. XL keren..! Dua jempol deh !

@erwinsnada | 0818750500 | digital management enthusiast | service coach

Like My Fanpage

 

PELANGGAN ADALAH RAJA : Jargon usang di Era Digital

The King 02Dalam kesempatan workshop beberapa tahun lalu, sering pembicara menyampaikan bahwa sebagai produsen kita harus respek dengan pelanggan, makanya perlu dibangun persepsi bahwa pelanggan itu adalah raja.
Jargon bahwa pelanggan itu raja, sampai saat ini, kadang masih saya dengar.
Menurut Anda, apakah Anda setuju dengan jargon tersebut?

Continue reading →

Snada, Antara Single Terbaru dan PILKADA

Album Musik Positif Snada Lama tak terdengar menelorkan karya, Ramadhan 2015 kemarin, akhirnya keluar juga single terbaru Snada “Laa Haula”. Banyak yang bertanya, kenapa lama sekali tidak mengeluarkan karya terbaru. Jawabnya cukup singkat, lagi pada sibuk mas :).

Yup sibuk memperbaiki diri untuk bisa tampil lebih fresh lagi. Maklum, isue usia tidak bisa ditutupi. Tapi dengan usia grup yang mendekati 26 tahun, Snada tampak lebih solid dan bersahaja. Kenapa jadi lebih solid ?

Continue reading →