Tentang sebuah usaha jualan bakmi bernama “Bakmi Janda”

branding marketing

Bakmi Janda Bogor

Dipinggiran jalan margonda depok, dari ratusan UKM penjaja makanan disana, terselip warung bakmi yg diberi nama unik oleh pemiliknya, namanya “Bakmi Janda”. Lucu, menggelitik dan unik. Itu yg terlintas dalam pikiran saya. Cukup mengundang perhatian bagi saya. Untuk level awareness dari sebuah teori marketing ini sudah oke. Dan singkat cerita mampirlah saya ke warung tersebut bersama istri tercinta. Proses mencicipi pun berlangsung lancar. Enak, spicy dan nikmat. Itu yang keluar dari hasil mencicipi semangkuk bakmi janda seharga 12.000 perak.

Hari berikutnya, saya melewati warung itu, tapi tidak terlihat keramaian disana. Ah..mungkin karena memang belum rame saja pikirku. Lalu, hari berikutnya, kembali aku melewati warung itu lagi. Masih dengan pemandangan yang sama. Meskipun ada pembeli, paling hanya 1 – 2 pembeli yang makan disitu.

Bulan-bulan berikutnya, aku melewati warung itu, namun saya tersentak kaget. Warung bakminya ternyata sudah tutup. Diganti dengan warung ayam penyet. Pikiran ini terus berpikir, mencari alasan apa penyebab tutupnya warung bakmi tersebut. Pikiran nakal pun mulai keluar dari otak saya. Begini analisanya :

Saya pikir pemberian nama “Bakmi Janda” menjadi biang keladinya. Karena sebuah nama menurut saya cukup kuat merepresentasikan bendanya, atau sesuatu yg terkait baik langsung atau tidak langsung dengan nama tersebut. Dan menurut saya kata “Janda” cukup membuat orang Indonesia agak risau bila mendengar atau mengucapkannya. Kata2 tersebut tidak enak bila terdengar atau diucapkan. Dalam prakteknya, bila kata “janda” disematkan pada nama sebuah usaha, kira2 apa yg keluar dipikiran anda? Coba sekarang anda yang laki-laki sedang makan di warung Bakmi Janda tersebut, terpikir gak label yang melekat pada anda?  Anda pasti dipersepsi sebagai laki2 yang suka sama janda, iya kan ? atau anda sedang menunggu janda disitu, karena bisa jadi di Bakmi Janda tempat berkumpulnya para janda. Nah, sekarang anda para wanita yang sedang makan di warung tsb. Apa label yang keluar dipersepsi oleh oran lain ? Bahwa anda benar seorang janda yang sedang mencari jodoh, karena ini adalah tempatnya para janda berkumpul. Baik anda yang laki2 atau wanita, mau kah anda dipersepsi seperti itu? saya pikir tidak. Jangan kan orang dewasa yang mau mampir disitu, para remaja pun saya rasa enggan, karena penamaan tadi yang dipersepsi sebagai sesuatu yang sudah “dewasa”.

Saya tidak sedang mengucilkan predikat janda ya…tidak, sama sekali tidak. Yang saya sorot adalah bagaimana sebaiknya memberi nama yang tidak menyentuh sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Itu saja. Kalau mau memberi nama usaha yang unik, saya pikir masih banyak. So, mudah2an jelas ya..kenapa akhirnya warung bakmi tersebut tutup. Semoga menginspirasi.

@erwinsnada | founder snada | service coach | digital customer management enthusiast | 0818 750 500 | 5620B309

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *