Tantangan dan Rantangan

Kemarin netizen dikagetkan dengan berita viral yang menyoal Gubernur Jambi, Zumi Zola, yang menegur keras beberapa pegawai di sebuah rumah sakit.  Kemarahan tampak dari wajah dan sikapnya, pasalnya para pegawai rumah sakit itu tertidur saat bertugas.

Saya tidak akan menyorot perilaku sang gubernur. Yang akan saya bicarakan adalah sikap kerja pegawai rumah sakit tersebut. Seperti yang kita ketahui, dalam dunia kerja, ada pegawai yang berprestasi, ada yang biasa-biasa aja, dan ada juga pegawai yang minim prestasi, bahkan cendrung butuh perhatian khusus karena performa kerja yang belum memenuhi standart.

Bagi pekerja berpresetasi, berbagai cara dilakukan agar selalu dalam performa kerja terbaik. Namun bagi sebagian yang lain merasa cukup dengan apa yang dia lakukan sekarang. Kira-kira apa sih yang membedakan mereka ? Salah satu yang membedakan mereka adalah soal mindset dan motivasi.  Kedua hal inilah yang kemudian memicu orang untuk memandang pekerjaan sebagai sebuah tantangan atau rantangan. Kalau kita memandang pekerjaan sebagai tantangan, maka kita akan selalu siap menghadapi sesuatu yang baru, sesuatu yang ingin kita selesaikan. Kemudian, jika kita memandang pekerjaan sebagai rantangan, itu artinya apa ? Artinya kita bekerja hanya untuk makan. Singkatnya, kalo gak kerja gak dapet duit, gak dapet duit berarti gak bisa makan.

Pertanyaanya, sampai dimanakah pemahaman anda dalam memandang pekerjaan ? Sebagai tantangan atau hanya sebagai rantangan? Kalau hanya sebatas rantangan, maaf, kuda yg menarik pedati juga bekerja hanya untuk makan. Kerbau juga bekerja di sawah hanya untuk makan. Apakah anda seperti itu ? Tentunya tidak. Idealnya kita memandang pekerjaan sebagai tantangan. Bila itu yg kiat lihat, maka peluang untuk bisa mempersembahkan hasil pekerjaan terbaik bisa kita tuai. Prestasi pun bisa dengan mudah kita raih. Karena orang yang terbiasa menerima tantangan adalah orang selalu mempersiapkan dirinya menghadapi berbagai kemungkinan. Orang yang demikian adalah orang yang selalu mau belajar demi tantangan yang dihadapi. Orang seperti ini, tidak akan menyianyiakan waktu hanya untuk sekedar bermain game di hp atau bahkan tertidur saat bekerja. Dia akan memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan apa yang dia cita-citakan.

Lalu bagaimana agar kita selalu memiliki sikap menerima tantangan ? Menurut saya, ada beberapa cara untuk memiliki sikap tersebut, beberapa diantaranya adalah :

  • Tidak mudah merasa puas dengan hasil pekerjaan sendiri. Ini akan memicu kita untuk selalu merasa kurang denan hasil yang ada, dengan itu kita akan senantiasa tertantang untuk menghasilkan yang lebih baik lagi
  • Selalu melihat peluang untuk mengejar prestasi
  • Memandang positif setiap tantangan yang dihadapi

So, jadilah orang yang berani menerima tantangan dan persiapkanlah diri demi tantangan tersebut. Persiapkan diri dengan kompetensi yg lebih mumpuni, salah satunya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan.

Salam inspirasi

Erwin Snada | Senior Trainer 168 Soution | Service Coach | @erwinsnada | +62818750500

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *