PELANGGAN ADALAH RAJA : Jargon usang di Era Digital

The King 02Dalam kesempatan workshop beberapa tahun lalu, sering pembicara menyampaikan bahwa sebagai produsen kita harus respek dengan pelanggan, makanya perlu dibangun persepsi bahwa pelanggan itu adalah raja.
Jargon bahwa pelanggan itu raja, sampai saat ini, kadang masih saya dengar.
Menurut Anda, apakah Anda setuju dengan jargon tersebut?

Kalau saya, nanti dulu, pelanggan yang seperti apa yg boleh mendapat predikat seperti raja.
Sebagai pemilik usaha, saya dan Anda pasti setuju untuk melakukan klasifikasi terhadap pelanggan-pelanggan kita. Mana yg harus di entertain mana yg tidak. Mengapa demikian, karena resource kita terbatas. Tidak mungkjn kita bisa mengentertain semua pelanggan. Perlu difilter agar tepat dalam melayani pelanggan, sesuai dengan resource yg kita miliki.
Nah, kembali ke permasalahan jargon tadi. Yang ingin saya sampaikan disini adalah setiap pemilik usaha harusnya selevel dengan pelanggan yg kita layani. Ya selevel, bukan lantas kita yg butuh order jadi hamba sahaya seorang raja (pelanggan).
Kenapa saya bilang selevel ? Karena di era digital
seperti saat ini, orang nyari apa aja gampang. Mau cari suplier kertas misalnya, gampang kok, tinggal googljng di yahoo…eh…maaf, ya tinggal gooling aja. Gak sampe sedetik keluar tuh ratusan bahkan ribuan suppplier kertas. Kemudah ini ditawarkan kepada pelanggan yg sedang mencari kertas. Lalu bagaimana dengan pihak produsen atau pemilik usaha. Gampang juga kok. Nyari pelanggan skr gak usah repot-repot…tinggal pergi ke facebook, twitter atau media sosial yag lain. Cari tempat
“nongkrong” mereka dimana, disitu kita jualan.
So my friend, tulisan ini memang saya khususkan kepada mereka yg memiliki usaha. Bahwa diera digital ini, semuanya serba dimudahkan. So jangan menjadi kerdil bila menghadapi pelanggan yg kesannya sok berkuasa.
Terus terang tulisan ini saya buat karena saya merasa prihatin kepada pelanggan saya yg menunda-nunda pembayaran di bisnis konveksi saya. Saya sampaikan ke pelanggan bahwa posisi kita itu sama. Saya butuh pelanggan, dan pelanggan juga butuh saya. Kalau salah satu pihak sudah merasa jumawa ingin menguasai pihak lain…mending gak usah diterusin kerjasamanya. Buat apa? Jika hanya menyengsarakan salah satu pihak.
Jadi, masih setuju dengan jargon “pelanggan adalah raja” … Hehehe…saya sih gak…tergantung sih pelanggannya seperti apa.

@erwinsnada | 0818759500 | digital managemen enthusiast | founder snada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *